Di hari yang gelap ini, aku merasakan aura yang sangat tidak biasa. Sekarang siang hari, harusnya hari ini cerah. Tapi mengapa hari ini sangat gelap. Apakah mereka bangkit kembali? Sial, padahal aku sudah mengalahkan si biadab itu. Kurasa aku harus membunuhnya satu kali lagi.
Berkat tangan kanan ku ini, dan juga teman-teman ku, kehancuran bumi bisa kita hindari. Akan kuceritakan bagaimana aku mendapatkan kekuatan ini. Tepatnya pada saat aku berumur 18 tahun.
*
Aku adalah manusia biasa pada awalnya. Menjalani kehidupan remaja pada umumnya. Bermain, bersenda gurau, belajar di sekolah. Itulah hal yang umum aku lakukan.
Nama ku Aiden, Aiden Raiko. Aku adalah lelaki berumur 17 tahun dan sebentar lagi berumur 18 tahun. Aku adalah remaja yang senang berpetualang. Bersama teman-temanku, aku sering menjalajahi berbagai hutan, mendaki gunung, dan juga berkeliling kota. Chika, Arya, Marco, dan Sasha adalah sahabatku di sekolah. Aku hidup sendiri. Kedua orang tua ku meninggal. Saat itu aku masih kecil, aku tidak tahu apa apa soal kematian kedua orang tua ku. Saat ini, aku duduk di bangku SMA kelas 12 dan akan lulus diwaktu yang dekat.
*waktu menunjukkan pukul 7
“Sialll!! Aku terlambat lagi!!” Ucapku merasa kesal. Aku segera bangkit dari tidurku dan segera pergi ke kamar mandi. Ini sudah ke 5 kali nya aku terlambat sekolah.
“ini semua gara-gara mimpi itu, aku selalu bangun kesiangan.” Ujarku dalam hati.
Setelah aku membersihkan badanku, aku langung memakai baju seragam dan merapikan buku ku. Hari ini pelajaran yang paling aku tidak suka, matematika. Selain sulit, Gurunya galak. Dan pelajaran tersebut berada di awal jam pelajaran. Aku berangkat dengan menaiki motor supra peninggalan orang tua ku. Sesampainya disekolah, aku langsung berlari ke kelas ku. Ternyata benar. Pak Jojo, guru matematika ku sudah berada di dalam kelas. Aku memasuki kelas dengan wajah lelah karena habis berlari. “Aiden, kamu terlambat lagi!!” Sentak pa Jojo.
“Maaf pak, saya bangun kesiangan pak.” Ucapku dengan wajah memelas. “Alasan apapun tidak saya terima, bapa akan beri kamu hukuman. Hari ini kamu tidak usah ikut pelajaran bapa, kamu tunggu diluar sekarang.” Ucap Pak Jojo.
“Baik pak, maafkan saya.” Ucapku dengan nada rendah.
Memang pak Jojo itu terkenal dengan guru yang sangat disiplin. Akupun keluar kelas dan menunggu jam matematika selesai.
“Ini semua gara-gara mimpi itu, kenapa semakin hari mimpi itu semakin seperti nyata??” Ucapku kesal.
Belakangan ini aku sering bemimpi aneh. Dimimpi itu, seolah-olah aku sedang menyelamatkan semua orang dari suatu ancaman. Tapi ancaman apakah itu? akupun masih belum paham. Ketika aku sedang melamun, Aku melihat aura aneh di ujung lorong sekolah. Aku tidak menyadari kalau aku sekarang bisa melihat aura. Aku bisa merasakan aura teman-temanku dan bisa melihat warna aura nya. Jadi, aku bisa tahu keadaan psikis dari teman temanku. Aura yang menuju ke lorong sekolah ku itu berwarna hitam pekat dan seperti nya tidak ada yang menyadari keberadaan aura itu, kecuali aku. Aku mencoba menyusuri keberadaan dari aura tersebut dan ternyata aura tersebut menuju ke arah gudang sekolah yang berada di ujung lorong sekolah ku. Aku ingin membuka pintu gudang tersebut. Tetapi aku ditahan oleh sekuriti sekolah, mas Bimo namanya.
“Mau apa kamu disini? kamu tidak belajar?” Tanya Mas Bimo.
“Tidak, mas. Saya hanya penasaran sama gudang ini. Saya juga bingung mau kemana, karena saya sedang dihukum.” Ucapku.
“Yasudah, tapi kamu jangan masuk ke gudang itu. Jangan tanya apa-apa.” Ucap mas Bimo.
Mas Bimo langsung pergi meninggalkan ku di lorong itu. Aku penasaran dengan lorong itu. Aku sedikit membuka pintu gudang tersebut dan aku mendengar suara jeritan dari dalam pintu itu. Jeritan nya sangat membuatku takut dan langsung berlari meninggalkan gudang itu.
Bel pun telah berbunyi, tanda selesai nya pelajaran. Saatnya aku memasuki kelas. Aku memasuki kelas dan menemui teman – temanku.
“Ehh koo lu tadi telat sii?” Udah berapa kali lu telat minggu ini?” tanya Sasha.
“Biasa, gara-gara mimpi itu lagi.” Ucapku.
“Sampai kapan lu mau diganggu sama mimpi itu? lu mau gw anter ke psikiater?” tanya Arya sambil memakan pilus.
“iyaa, gara-gara mimpi itu, kamu selalu kesiangan.” balas Chika dengan mata yang tajam ke arahku.
“Ngga usah, nanti juga hilang sendiri mimpinya.” Ucapku sembari duduk di tempat dudukku. Aku terus memikirkan tentang kejadian yang baru saja aku alami di gudang sekolah.
“Lu kenapa? ada masalah? Lu sepertinya ketakutan.” Tanya Marco.
“Apa? ngga ada apa apa koo, santai aja sii. Gw baik baik aja.” Ucapku dengan agak memalingkan muka.
Sebenarnya aku ragu untuk menceritakan kejadian pada saat aku dihukum tadi. Mungkin sebaiknya aku cerita pada mereka sepulang sekolah saja. Mereka pasti terkejut mendengar cerita ku. Karena ini pertama kali nya aku mengalami kejadian seperti ini.
One thought on “God Hand : The Hunter (Phase. 1)”